Siapakah Ulil Amri Minkum Yang Sebenarnya?

Di dalam Al-Qur’an terdapat sebuah ayat yang sangat sering dikutip oleh para politisi Partai Islam terutama di musim kampanye menjelang Pemilu. Namun yang kita sayangkan ialah umumnya mereka mengutip ayat tersebut secara tidak lengkap alias sepotong saja. Lengkapnya ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa ayat 59)

Mengapa ayat ini begitu populer dikumandangkan para jurkam di musim kampanye? Karena di dalamnya terkandung perintah Allah agar ummat taat kepada Ulil Amri Minkum (para pemimpin di antara kalian atau para pemimpin di antara orang-orang beriman). Sedangkan para politisi partai tadi meyakini jika diri mereka terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin sosial berarti mereka dengan segera akan diperlakukan sebagai bagian dari Ulil Amri Minkum. Dan hal itu akan menyebabkan mereka memiliki keistimewaan untuk ditaati oleh para konstituen. Selain orang-orang yang sibuk menghamba kepada Allah semata, mana ada manusia yang tidak suka dirinya mendapatkan ketaatan ummat? Itulah sebabnya ayat ini sering dikutip di musim kampanye. Namun sayang, mereka umumnya hanya mengutip sebaian saja yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisa ayat 59)

Mereka biasanya hanya membacakan ayat tersebut hingga kata-kata Ulil Amri Minkum. Bagian sesudahnya jarang dikutip. Padahal justru bagian selanjutnya yang sangat penting. Mengapa? Karena justru bagian itulah yang menjelaskan ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum. Bagian itulah yang menjadikan kita memahami siapa yang sebenarnya Ulil Amri Minkum dan siapa yang bukan. Bagian itulah yang akan menentukan apakah fulan-fulan yang berkampanye tersebut pantas atau tidak memperoleh ketaatan ummat.

Dalam bagian selanjutnya Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa ayat 59)

Allah menjelaskan bahwa ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum yang sebenarnya ialah komitmen untuk selalu mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Para pemimpin sejati di antara orang-orang beriman tidak mungkin akan rela menyelesaikan berbagai urusan kepada selain Al-Qur’an dan Sunnah Ar-Rasul. Sebab mereka sangat faham dan meyakini pesan Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ

وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Hujurat ayat 1)

Sehingga kita jumpai dalam catatan sejarah bagaimana seorang Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu di masa paceklik mengeluarkan sebuah kebijakan ijtihadi berupa larangan bagi kaum wanita beriman untuk meminta mahar yang memberatkan kaum pria beriman yang mau menikah. Tiba-tiba seorang wanita beriman mengangkat suaranya mengkritik kebijakan Khalifah seraya mengutip firman Allah yang mengizinkan kaum mu’minat untuk menentukan mahar sesuka hati mereka. Maka Amirul Mu’minin langsung ber-istighfar dan berkata: ”Wanita itu benar dan Umar salah. Maka dengan ini kebijakan tersebut saya cabut kembali...!” Subhanallah, demikianlah komitmen para pendahulu kita dalam hal mentaati Allah dan RasulNya dalam segenap perkara yang diperselisihkan.

Adapun dalam kehidupan kita dewasa ini segenap sistem hidup yang diberlakukan di berbagai negara –baik negara Muslim maupun Kafir- ialah mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada selain Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya). Tidak kita jumpai satupun tatanan kehidupan modern yang jelas-jelas menyebutkan bahwa ideologi yang diberlakukan ialah ideologi Islam yang intinya ialah mendahulukan berbagai ketetapan Allah dan RasulNya sebelum yang lainnya. Malah sebaliknya, kita temukan semua negara modern yang eksis dewasa ini memiliki konstitusi buatan manusia, selain Al-Qur’an dan AsSunnah An-Nabawiyyah, yang menjadi rujukan utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Seolah manusia mampu merumuskan konstitusi yang lebih baik dan lebih benar daripada sumber utama konstitusi yang datang dari Allah subhaanahu wa ta’aala.

Bila demikian keadaannya, berarti tidak ada satupun pemimpin negeri di negara manapun yang ada dewasa ini layak disebut sebagai Ulil Amri Minkum yang sebenarnya. Pantaslah bilamana mereka dijuluki sebagai Mulkan Jabbriyyan sebagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebutkan dalam hadits beliau. Mulkan Jabbriyyan artinya para penguasa yang memaksakan kehendaknya seraya tentunya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Adapun masyarakat luas yang mentaati mereka berarti telah menjadikan para pemimpin tersebut sebagai para Thoghut, yaitu fihak selain Allah yang memiliki sedikit otoritas namun berlaku melampaui batas sehingga menuntut ketaatan ummat sebagaimana layaknya mentaati Allah. Na’udzubillahi min dzaalika.

Keadaan ini mengingatkan kita akan peringatan Allah mengenai kaum munafik yang mengaku beriman namun tidak kunjung meninggalkan ketaatan kepada Thoghut. Padahal Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk meninggalkan para Thoghut bila benar imannya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ

وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ

وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa ayat 60)

Sungguh dalam kelak nanti di neraka penyesalan mereka yang telah mentaati para pembesar dan pemimpin yang tidak menjadikan Allah dan RasulNya sebagai tempat kembali dalam menyelesaikan segenap perkara kehidupan.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS Al-Ahzab ayat 66-68)

Ihsan Tandjung

eramuslim.com



Selengkapnya...

Tidur Isteri

Tidur merupakan anugerah Allah yang sangat mahal. Dari nikmat itulah, tubuh kembali segar, pikiran pun lancar. Tapi tidak semua tidur sebagai obat manjur. Karena ada tidur yang membuat keharmonisan luntur.

Keluarga memang tempat aman untuk buka rahasia diri. Nyaris, tak ada lagi rahasia pribadi yang terus tersimpan sesama anggota keluarga. Yang pelit terlihat pelit. Yang ramah teruji ramah. Yang malas pun begitu. Semua warna pribadi menjadi tampak jelas dalam kehidupan keluarga.

Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw. melarang suami menceritakan keadaan isterinya ke orang lain. Dan begitu pun sebaliknya. Biarlah dinding rumah menjadi penutup aurat anggota keluarga. Buat selama-lamanya.

Menariknya, ketika bangunan keluarga masih seumur jagung. Masing-masing pihak, belum paham seperti apa rahasia diri pasangannya. Pelitkah, rewelkah, penakutkah, manjakah, boroskah? Dan sebagainya. Saat itulah, suami atau isteri coba-coba menyelami kekurangan pasangannya.

Tentu saja, kekurangan bukan untuk dijatuhkan. Karena manusia mana yang hidup tanpa kekurangan. Itulah batu ujian, agar keluarga bisa menapaki anak-anak tangga keharmonisan. Setidaknya, hal itulah yang kini dirasakan Pak Juned.

Pemuda usia dua puluh empat tahun ini sedang memasuki masa pengantin baru. Sebulan sudah, hari bersejarah akad nikahnya berlalu. Masih terasa degup jantungnya ketika itu. Bingung, grogi, penasaran jadi satu. Kini, ia sedang menelusuri dunia lain yang belum pernah ia alami. Apalagi rasakan.

Salah satu yang ia rasakan saat ini adalah bagaimana mengenal sisi lain orang yang tiba-tiba tinggal sekamar dengannya. Orang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia kenal. Kadang Juned mengangguk pelan karena ada yang baru ia pahami. Sering juga bingung.

Salah satu yang kerap membuat bingung Juned bukan karena isterinya rewel. Bukan juga pelit. Apalagi pemarah. Semua sifat buruk itu nyaris tak ada. Tapi, ada hal yang sulit dimengerti Juned. Isterinya punya dua sifat berlawanan dalam tidur: gampang di saat akan tidur, sulit ketika akan bangun.

Memang, sifat itu sama sekali tidak menyalahi akhlak Islam. Sungguh anugerah Allah yang luar biasa ketika seseorang bisa tidur dengan cara mudah. Tapi, kok ini mudah banget. Tidak boleh ada angin bertiup sepoi-sepoi, ada tempat buat sandaran kepala, cahaya redup; dan tidur pun datang membawa lelap. Tak kenal siang, apalagi malam.

Itulah sebabnya, Juned belum berani memboncengki isterinya dengan sepeda motor berjarak di atas dua puluh kilometer. Takut ketiduran. Kecuali di hari panas, atau di jalan yang belum beraspal. Mudah tidurnya bisa sedikit tertahan.

Buat sifat yang pertama mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, yang kedua itu agak merepotkan. Dan di sinilah, kesabaran Juned mesti terus diuji.

Suatu kali, beberapa hari setelah habis masa cuti nikah, Juned pulang agak larut. Arlojinya menunjuk angka dua belasan. Dengan lembut, ia mengetuk pintu depan rumah kontrakannya. ”Assalamu’alaikum!” ucap Juned pelan. Tapi, kok nggak ada reaksi. Suasana rumah tampak masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Sepi!

Ia ketuk lagi pintu agak keras. “Assalamu’alaikum!” suaranya berbeda dengan yang pertama. Tapi, respon tetap tak berubah. Hingga beberapa kali ia ulangi langkah satu dan dua, suasana mulai berubah. Akhirnya ada reaksi. Sayangnya, reaksi bukan datang dari dalam rumah. Tapi, dari sekitar rumah. Beberapa tetangga Juned terbangun dan keluar rumah. “Baru pulang, Pak!” ucap mereka agak menyindir. Tidak ada yang bisa dilakukan Juned kecuali senyum yang agak dipaksakan. “Maaf jadi terbangun,” ucapnya ramah.

Diam-diam, Juned memutar ke arah samping rumah. Persis di dekat lubang angin jendela kamarnya, ia berdiam diri. Mungkin, dari tempat itu suaranya bisa didengar sang isteri. “Assalamu’alaikum! Abang, Yang! Assalamu’alaikum!!” ucapnya hati-hati. Tapi, tetap belum ada reaksi.

Saat itulah, Juned teringat dengan akhlak Rasul. Beliau saw. memilih tidur di halaman ketimbang menyusahkan isterinya yang tertidur pulas. “Ah, kenapa aku tidak memilih cara itu,” batin Juned berbisik datar. Ia pun kembali ke halaman depan.

Dengan hati-hati, Juned menggeser rak sepatu, besi penjemur pakaian, dan dua kursi plastiknya. Setelah yakin lantai yang ia pilih tidak basah bekas siraman hujan, ia susun beberapa lembar kertas koran yang sempat mampir di tas kantornya. Dan, Juned pun mulai merebah.

Matanya mulai dipejamkan. Mulutnya pun berujar pelan, “Bismikallahumma ahya, wa....” Plak! Belum sempat doa tidurnya terucap rampung, beberapa nyamuk sudah menyerbu. Juned pun sibuk menangkal serbuan itu.

Posisi tubuhnya tidak lagi merebah. Tapi, duduk bersila. Sementara, nyamuk-nyamuk tak kenal kompromi, apakah Juned sedang mencontoh Rasul atau tidak. “Ya Allah, ternyata perbuatan Rasul itu tidak mudah. Sulit!” ucap Juned sambil mencoba berdiri.

Ia kembali ke tempat persis di sisi jendela kamarnya. “Yang, Abang pulang! Assalamu’alaikum!” ucap Juned agak mengeras. “Yang, Abang, Yang!” Tapi, suasana tetap tak berubah.

Juned seperti mencari-cari sesuatu. Ia kumpulkan beberapa koin limaratus rupiahan dari saku celananya. Sesaat kemudian, tangan kanannya melempar koin demi koin melalui celah lubang angin kedalam kamar. Klotak! Klotak! Hingga....

“Bismillah!” suara Juned sambil beraksi di koin keempat. “Aduh!” terdengar suara halus dari balik kamar. “Siapa, ya?” ucap sang isteri agak parau. “Abang, Yang. Abang. Assalamu’alaikum!” sahut Juned spontan. Dan, pintu depan pun mulai dibukakan seseorang.

eramuslim.com
Selengkapnya...

Manusia Tidak diciptakan kecuali untuk mengabdi kepada Allah

oleh: Dede Meki Mekiyanto

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Adz Dzariat:56-58)

Pembaca yang budiman, Mungkin diantara kita sering mendengar ayat tersebut di atas yang mungkin sebagian berfikir bahwa antara pencarian dunia dan akhirat merupakan dua ruangan yang terpisah yang tidak bercampur satu sama lain. Padahal sesungguhnya tidak, dimana setiap detik nafas kita, setiap detik langkah kita, setiap detik gerakan jari jemari kita dalam mengerjakan tugas kita baik dalam rangka mencari nafkah atau hanya sekedar mengerjakan tugas rutin, didalamnya memiliki nilai luhur yang akan dinilai sebagai kebaikan selama yang kita lakukan adalah pengabdian kepada Allah. Jadi jangan sangka kalau anda seorang ayah sedang bercanda sambil tertawa-tawa dengan anaknya adalah perbuatan sia-sia, karena sang ayah selalu berniat dan berfikir, apa yang dia lakukannya itu adalah untuk membahagiakan makhluk Allah yang masih kecil-kecil yang dititipkan kepadanya. Jadi perspektif mengabdi kepada-Ku adalah Mengabdi dengan seluas-luasnya makna, bisa bermakna mengabdi kepada pelayanan untuk hamba-hamba-Nya yang lain.

Dalam tulisan ini, mari kita belajar untuk sedikit membuka ‘kisi-kisi’ dalam belenggu fikiran kita untuk memasukkan cahaya atau nur dari makna ayat di atas, dengan mengesampingkan segala penutup kisi-kisi yang menutup fikiran dan hati kita.

Sebagai seorang pekerja di suatu perusahaan, penulis memiliki tugas-tugas pokok yang kadang menyita waktu berlebihan dan dalam waktu tertentu jika pulang ke rumah, sesampainya di rumah agak larut malam, sehingga sesampainya di rumah, mungkin hanya sempat melaksanakan shalat Isya dan tidak sempat lagi untuk Membaca Al-Qur’an. Atau misal di bulan Ramadhan, sepertinya dan rasanya begitu kurang ‘jumlah’ atau ‘quantity’ amalannya karena kesibukan. Lantas, apakah apa yang saya lakukan dalam pekerjaan dimana setiap tugas yang diamanatkan juga mengandung pelayanan untuk orang lain ini ‘mengganggu’ amalan ibadah saya? Jika saya mengingat ayat di atas, ternyata tidak. Mengapa? karena setiap detik dan nafas dalam pekerjaan yang diemban, dengan tulus dan ikhlas diabdikan agar kepentingan orang lain atau lebih tepatnya Kebutuhan Hamba Allah lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini akan terpenuhi sehingga mereka bisa menikmati kebahagiaan yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan kantor.

Akan tetapi tentu ada juga yang berfikiran berbeda. Misal ada seorang pekerja kantoran, di perusahaan yang berskala besar (tentu melayani hajat orang dengan jumlah besar pula), Katakanlah karyawan itu bernama Joni dan perusahaannya adalah PT. Agung , bekerja sebagai karyawan akutansi tepatnya account payable (AP) (=bagian pekerjaan yang mengurusi pembayaran ke supplier). Suatu ketika menjelang ramadhan, mendadak si Joni ingin mengajukan cuti 1 bulan penuh ke atasannya dengan 2 alasan, pertama dia ingin puasa yang akan dilakukannya ingin dipenuhi amalan-amalan sholeh dan tidak terganggu urusan dunia (seperti pekerjaan kantor, dll) kedua, karena dia merasa berhak untuk menggunakan cutinya. Karena atasannya tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya selama sebulan tugas sebagai account payable (AP) diberikan kepada rekan kerja yang lain 2 orang, jadi tugas sebulan dia sebagai AP dikerjakan 50% -50% oleh kedua rekan karyawan. Sambil berlalu si Joni berkata “Sorry yah, aku mau ibadah dulu neh, alhamdulillah di approve cutinya” Apa yang terjadi berikutnya? Kedua rekan kerjanya harus menambah jam kerja hariannya sehingga setiap hari selama ramadhan mereka pulang telat karena mendapatkan kerja tambahan dari rekannya yang ‘cuti untuk ibadah’. Mereka berdua mengerjakan dengan penuh tanggung jawab, sehingga pembayaran ke supplier berjalan dengan lancar. Pembaca yang budiman, dari kisah ini mari kita lihat pada dimensi yang lain, yaitu dimensi suatu keluarga seorang mandor dari sebuah supplier kecil (misal PT. ACI) yang dibayar oleh PT. Agung. Sang mandor memiliki istri yang akan melahirkan, yang tentu akan memerlukan uang untuk proses melahirkan. Beberapa hari yang lalu, sang istri khawatir jika pada saat melahirkan, uang dari kantornya belum dibayar dengan alasan karena belum dibayar oleh PT. Agung itu. Pada beberapa jam sebelum hari H melahirkan, sang istri bertanya lagi kepada suaminya, “mas uang dari kantor sudah datang belum..?” suami menjawab, “insya Allah akan dibayar, mungkin beberapa jam lagi”. Kemudian dia berdoa kepada Allah “Ya Allah, Engkau maha mengetahui, pembayaran dari PT. Agung itu belum ada, Hamba mohon kepadaMu ya Allah, mudahkanlah pembayaran yang dilakukan PT. Agung itu kepada kami, supaya hamba bisa membantu proses lancarnya persalinan ini”. Dan pada beberapa saat sebelum melahirkan, kedua karyawan pengganti si Joni itu melakukan pembayaran sesuai tugas kepada PT. ACI, sehingga PT. ACI bisa membayarkan biaya persalinan dengan lancar kepada sang mandor. Selang berapa lama, persalinan pun berjalan lancar tandapa ada rasa khawatir mengenai uang persalinan. Kemudian, sang mandor dan istrinya berdo’a “Ya Allah, Berikanlah kebaikanMu kepada hambaMu yang membantu kami, yaitu orang yang telah melakukan pembayaran di PT. Agung ke kantor kami, sehingga kami bisa berbahagia hari ini”
Coba anda bayangkan kejadian ini, sebenarnya, siapa yang lebih beruntung? Tentu 2 karyawan pengganti si Joni itulah yang lebih bertuntung, mereka dengan ikhlas mengerjakan tugas tambahannya sehingga di tinggkat yang lebih bawah, telah mampu membahagiakan orang lain walau hanya dengan sedikit proses pembayaran ke salah satu suplier saja. Lihatlah, dengan berfikir memisahkan urusan dunia dan akhiran dengan cara seperti si Joni di atas, Joni telah kehilangan momentum kebaikan yang paling tinggi yang bisa membahagiakan Hamba Allah yang lain.

“Nilai rahasia kebaikan seorang Hamba berada di tangan Allah, bukan bergantung pada hitungan amalan versi kita sendiri/manusia.


Pembaca yang budiman, mungkin bisa kita mulai menuliskan disini beberapa contoh peninjauan segala apapun pekerjaan atau keadaan kita dilihat dari dimensi yang lain yang lebih bermakna

Pertama,
Seorang ayah yang memiliki anak yang kebetulan sedang belajar di rumah, dimana sang anak minta bantuan untuk penyelesaian persoalan yang dia hadapi, padahal sang ayah dalam kondisi lelah habis pulang kerja. Kemudian sebelum membantu sang anak, sang ayah berkata dalam hatinya, “ Ya Allah, dalam lelah tubuhku ini, pastilah Engkau telah sisakan tenaga untuk membahagiakan anak titipan-Mu, dia adalah hamba-Mu yang sedang meminta bantuan aku sebagai Ayahnya, Ya Allah terimalah kebaikanku ini sebagai tasbihku kepadamu” setelah itu, sambil tersenyum dalam lelah, sang ayah dengan antusias membantu anaknya. Dan kemudian, sang anak berbahagia karena telah mendapatkan bantuan penyelesaian masalahnya, sehingga dia bialng “terima kasih ya Ayah, aku jadi mengerti” sambil berbahagia, dia tersenyum.

Kedua,
Seorang istri yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah, dengan penuh keikhlasan dia selalu berkata dalam hatinya, “Ya Allah, Engkau telah titipkan rumah ini kepada kami, engkau telah titipkan anak-anak kepada kami, engkau telah titipkan semua barang-barang di rumah ini kepada kami, jadikanlah sapu ini sebagai tasbihku padaMu, jadikanlah cangkir-cangkir kopi untuk suamiku menjadi shalat sunat ku, jadikanlah belayan tanganku ketika memandikan anak-anak menjadi aliran doa kepada-Mu, dan jadikanlah masakanku menjadi tahajudku kepadaMu, Ya Allah, aku abdikan segala tugas yang ku-emban ini untuk Mu”


Ketiga,
Seorang polisi lalu lintas, dia mengabdi kepada tugasnya agar kondisi lalu lintas berjalan lancar, dia tidak mengeluhkan peluh keringat, debu kendaraan dan kadang dia sering mendapatkan penghinaan dari beberapa pengendara yang tidak menaati peraturan atau malah yang terang-terangan mencemoohkan dia. Dia tetap sabar, tetap teguh pada pekerjaannya. Dalam relung hati dan fikirannya dia berkata, “Ya Allah sang penguasa Alam, maha rahman dan maha rahim, tugas yang kuemban aku abdikan hanya kepadaMu supaya hamba-hamba-Mu di jalan merasanya nyaman, dan mereka bisa beribadah kepada-Mu dengan tenang. Aku tahu jumlah shalatku sangat minim hanya yang fardhu, tetapi, jadikanlah jalan ini sebagai sejadahku sebagai shalat sunatku, jadikalah peluitku sebagai tasbihku padaMu, jadikanlah tanganku sebagai takbirku kepada-Mu, Aku ingin, semua hambaMu yang di jalan ini merasa bahagia karena tugasku.”


Keempat,
Seorang Guru yang mengajar murid-murid dengan penuh semangat dan sabar, dengan penuh keihlasan dia tetap berkata, “Ya Allah, Engkau telah menitipkan ilmuMu kepadaku dan kepada tugasku sebagai Guru, jadikanlah coretan di papan tulis sebagai tasbihku kepadaMu, jadikanlah kelas ini menjadi sajadah bagiku, Aku bergembira karena engkau telah menunjukku untuk mejadi orang terpilih untuk menjadikan hamba-hambaMu yang masih kecil ini berkembang dengan ilmuMu. Aku berbahagia karena aku bisa membahagiakan hamba-hamba-Mu yang masih kecil ini.”

Kelima,
Seorang supir angkot, Meski setiap hari melalui jalan yang sama, sangat monoton, penuh dengan debu, peluh keringat, sang supir angkot tetap berkata, “Ya Allah, Aku sangat senang dan bahagia karena selalu memenuhi kebutuhan hamba-hamba-Mu dalam perjalanan, beberapa dari mereka ingin ke Rumah sakit, ingin ke masjid dll, Akan tetapi Ya Allah, hamba tahu, jumlah shalat hamba hanya minim yang fardhu, oleh karena itu, jadikanlah mobil angkot ini sebagai sajadah untukMu, jadikanlah debu-debu ini menjadi tasbihku untuk Mu, jadikanlah senyumku kepada penumpang, sebagai sedekahku untukMu…”

Keenam,
Pajak penghasilan.
Potongan pajak penghasilan yang dipotong dari kita, sebagian besar dari kita tentu akan merasa dirugikan akibat pemotongan itu, meski menyadari bahwa pajak pada dasarnya adalah untuk kepentingan negara, tetapi sebegitu besarnya persepsi dan belenggu dalam fikiran kita dimana sering terjadinya penyelewengan pajak dimana-mana sehingga membuat sebagian dari kita TIDAK IKLASH penghasilannya di potong. Tetapi mari kita lihat dari dimensi yang lain, dengan mengesampingka kuatnya persepsi tentang penyelewengan pajak yang terjadi. Mengapa kita kesampingkan dulu? karena ini tidak menyangkut dengan mereka, tetapi ini menyangkut dengan nilai abdi kita kepada Allah (This is not about them, this is about me). Kita lihat dimensi lain, dimana akibat dari besarnya pajak yang dipotong dari kita, setelah dikumpulkan di tingkat negara, kemudian digunakan untuk keperluan orang lain (tepatnya adalah HAMBA ALLAH YANG LAIN), ada yang berprofesi guru tk, sd, sma, ada yang berprofesi mantri di kampung, ada yang berprofesi pada dinas sosial yang mengurusi hamba-hamba Allah yang kebetulan sedang kekurangan, dll, sehingga dengan biaya dari pajak tadi, maka berbahagialah Hamba-hamba Allah karennya. Sehingga dengan itu kita bisa berkata “Ya Allah, potongan pajak ini, jelaslah bukan pengurang untukku, tetapi melalui pajak inilah, aku bisa berbagi kebahagiaan dengan hamba-hambaMu yang lain yang belum tentu aku sanggup menggapainya, jangan-jangan ada hamba Mu yang sedang diujung kebinasaan, melalui pajak yang dipotong dari penghasilan ini, Engkau telah menyelematkan Mereka, dan akhirnya mereke berbahagia, Ya Allah, jadikanlah potongan pajak ini sebagai pengabdianku kepada Mu”

Ke tujuh, dst…. (silahkan teruskan…..)

Pembaca yang budiman, meski tulisan ini panjang, semoga bermanfaat.
Marilah kita belajar untuk membuka fikiran kita dari maksud ayat di atas, batasan ruang antara urusan dunia dan akhirat, hanyalah bagaimana niat dan perilakukan segala aya yang kita perbuat untuk Allah.

Boleh Jadi meskipun namanya shalat di masjid adalah untuk akhirat, dia bisa berubah menjadi dunia, ketika niat sombong dan ria menjadi utama, boleh jadi meski namanya kita bekerja sebagai tukang bengkel, bisa menjadi nilai akhirat ketika kita berniat dan memperilakukan pekerjaan tukang bengkel untuk mengabdi kepada Allah dengan cara melayani Hamba-hambaNya yang memerlukan, agar kendaraannya aman dan menyelamatkan.

"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, lalu membentuk kalian, membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rizki dari sebagian yang baik-baik yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (Al Mu'min: 64)


Wassalam
Dedemeki
www.fai-kao.com
Selengkapnya...

Sol Sepatu

Umumnya kita mungkin kecewa ketika sepatu atau sandal kesayangan tiba-tiba rusak. Mau dibuang sayang, mau diperbaiki kayaknya nggak murah.

Kalau sudah begitu, tukang sol sepatu mungkin jawaban yang paling tepat. Biayanya relatif murah. Nggak sampai sepuluh ribu per sepatu. Dan, sepatu Anda bisa seperti baru lagi.

Mungkin, inilah hikmahnya. Di balik kekecewaan kita dengan sepatu dan sandal kesayangan yang rusak, di situlah Allah memberikan rezeki kepada hamba-Nya yang lain.

Setidaknya, hal itulah yang tertangkap dari obrolan eramuslim dengan seorang penjaja jasa perbaikan sandal dan sepatu.

Nama Bapak?
Saya Salim.

Sudah lama Bapak menjadi tukang sol sepatu? (penjual jasa perbaikan sepatu, sandal, tas, dll)
Sejak tahun 82. Nggak lama setelah Gunung Galunggung meletus.

Usia Bapak sekarang berapa?
Kurang lebih 50 tahun.

Dari mana Bapak belajar perbaikan sepatu?
Saya dulu ikut uwak (paman, red) keliling memperbaiki sepatu. Dari situ saya belajar.

Sejak awal Bapak keliling di Jakarta?
Ya, lebih dekat ke kampung.

Kampung Bapak di mana?
Garut.

Di Jakarta Bapak tinggal di mana?
Saya dan saudara dari kampung tinggal di gubuk di tanah PT. (sewa di tanah kosong milik sebuah perusahaan yang belum dibangun, red)

Berapa biaya kontraknya?
Seratus ribu sebulan.

Dari jam berapa Bapak berangkat?
Mulai jam 6 pagi sampai jam 5 sore.

Sebelas jam! Seberapa jauh Bapak berjalan?
Paling jauh sekitar satu kecamatan.

Hari Minggu libur?
He..he..he. Nggak ada liburnya.

Berapa penghasilan Bapak per hari?
Nggak tentu. Rata-rata saya bisa simpan 25 ribu per hari buat yang di kampung.

Anak Bapak berapa?
Cuma dua. Semuanya sudah nikah.

Bapak tidak pensiun?
Gimana pensiun, lha anak dan menantu saya tinggalnya masih nyampur sama saya. Saya jadi ikut nanggung mereka.

Berapa kali sebulan Bapak pulang kampung?
Nggak tentu. Kalau punya duit saja. Kadang-kadang tiga bulan baru pulang.

Kenapa nggak jadi petani saja. Kan, lebih dekat dengan keluarga?
Saya nggak punya sawah. Pernah jadi buruh tani, pendapatannya cuma 15 ribu sehari.

Bapak pernah nyantri di kampung?
Pernah. Di Garut banyak pesantren. Jadi, memang sudah biasa anak-anak di sana masuk pesantren sebelum kerja keluar kampung. (mnuh)

- copy-paste dari eramuslim.com -

Selengkapnya...

Niat dan Ikhlas dalam Beramal

"Bahwasanya semua amal itu teragntung niatnya, dan bahwasanya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu."
(H.R Bukhori & Muslim) Selengkapnya...

Jangan Bersedih, bila rizki telat datang, karena rizki itu ada waktunya

Orang yang tergesa-gesa ingin meraih bagian rizkinya dan ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat, sedang ia gelisah dan khawatir bila keinginannya tertunda, sama halnya dengan ma'mum yang mendahului imam dalam shalatnya, padahal ia mengetahui bahwa dirinya tidak boleh salam, kecuali sesudah imamnya bersalaman.

Semua urusan dan rizki telah ditetapkan dan telah dituntaskan ukurannya masing-masing sebelum mahluk diciptakan dalam tenggang waktu selama 50.000 tahun. Allah telah berfirman: "Semua ketetapan Allah pasti akan datang. Karenanya, janganlah kamu minta agar disegerakan kedatangannya." (Q.S 16:11). "Jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak satu pun yang dapat menolak karunian-Nya"

-Laa Tahzan- Selengkapnya...